Karya : Paulus Bung Kanis Prason Wahon

Jujur saja, sudah seringkali aku tenggelam dalam lesung pipimu, namun tak juga sampai pada dalam hatimu.

***

Cahaya mentari membias melalui kaca jendela menerangi kamarku. Kuseka mata yang masih setengah tertutup sembari mematikan alarm yang berbunyi membangunkanku. Namaku Fajar. Kata Ayah, aku lahir pada pukul 06.00 pagi, saat sinar surya benar menyapa dan menghangatkan bumi. Aku tinggal bersama ayah saja, ibuku meninggal tiga tahun yang lalu tepat saat aku mengikuti ujian kelulusan SMA di hari terakhir. Ia adalah seorang pekerja keras.  Meninggal terkena serangan jantung.

Sekarang aku adalah seorang mahasiswa semester 6 jurusan matematika. Ini adalah hari rabu, jam pelajaran mata kuliah aljabar akan dimulai satu jam lagi. Segera aku membereskan tempat tidur, dan langsung menuju kamar mandi.

Ayahku adalah seorang kontraktor. Saat ini beliau sedang mendapat sebuah proyek di luar kota sehingga ia lebih banyak menghabiskan harinya di luar. Aku tinggal bersama ayah saja tanpa pembantu. Rumah kami tidak begitu besar sehingga tidak begitu sulit bagiku untuk mebersihkannya.

Dering posel berbunyi, pesan singkat dari Sheila. Sheila, sahabatku sejak kecil hingga kini. Kami  mengenyam bangku pendidikan yang sama namun ia mengambil jurusan jurnalistik.

“Fajar, jangan lupa menjemputku.”

Rumah kami berdekatan, cukup melewati dua rumah di sebelah kanan rumahku. Aku segera menstater motor dan menuju ke rumahnya.

Sheila telah menunggu di halaman rumahnya. Begitu aku tiba, ia segera naik dan kami melesat membelah jalan menuju kampus.

Sheila seorang perempuan yang tekun dan berprinsip. Setia akan mimpinya menjadi seorang jurnalis hebat. Hal itu terbukti dari kesetiaanya yang tak pernah menginginkan seorang pria tuk menjadi sandaran resah dan gelisahnya karena ia ingin fokus untuk menyelesaikan pendidikannya.  Aku bahkan tak pernah melihat kesedihan dari matanya sejak pertama kali aku melihatnya di kompleks. Ia pindah dari Denpasar bersama ayahnya. Ibunya pun telah meninggal. Perasaan sedih karena kehilangan ibu telah ia rasakan sehingga sukses membuatku bangkit dari kesedihan kehilangan sosok ibu tiga tahun lalu. Sheila sangat memahamiku.

Setelah menempuh perjalanan dua puluh menit dalam diam akhirnya kami tiba di kampus dengan keadaan yang tidak tergesa-gesa bagiku tapi tidak bagi Sheila.

“Makasih jarr, maaf aku buru-buru, 15 menit lagi ada ujian.”

“Oke sheila, hari-hati ya, semangat !” Aku tersenyum menyemangati Sheila.

Ia tersenyum dan segera bergegas menuju ke kelasnya. Senyum Sheila adalah yang paling indah. Lesungnya dipahat Tuhan dengan sempurna. Indah sekali menghias teduh tatapnya. Ramburnya terurai, hitam dan tidak pernah terjamah pewarna sedikitpun.

Paras dan kedewasaannya membuatku jatuh cinta padanya. Selalu aku tenggelam pada lesung pipinya. Mengagumi hingga bermimpi tentang hari-hari indah bersama kami. Perasaan cinta ini mulai aku sadari ketika mengenal rasa cemburu. Aku cemburu melihat kedekatannya bersama orang lain. Biar aku saja yang selalu bersamamu, biar aku saja yang mejadi sandaran tangis, resah dan gelisahmu.

 

***

Pagi telah menjelma siang, sinar surya sebentar lagi benar-benar menaiki singgasana. Kelasku telah selesai sejak 15 menit yang lalu. Aku duduk di parkiran menunggu Sheila. Orang-orang yang melihat kedekatan kami pastinya akan berpikir bahwa kami sudah berpacaran, apa daya itu hanya sebatas angan.

“Fajar, sudah lama menunggu?” Sheila muncul dari belakang yang membuat ku sedikit terkejut.

“Ahh tidak juga, bagaimana ujiannya?”

Sheila diam, kemudian mengambil napas dan sedikit menggerakan tanggannya seolah berpuisi.

“Soal itu bagaikan kemarau panjang yang merindukan mata air tuk puaskan dahaga, dan aku Dewi Athena bukan setetes namun hujan berlimpah basah semua dan tak berkekurangan.”

“Hahahhahahhaha, kau tau butir hujan tak memiliki jumlah yang tepat, jangan sampai jawabanmu melebihi soal yang diberikan.” Aku tertawa melihat gerak Sheila yang seolah menjadi penyair di atas panggung.

“Ahh, memang susah ya membahasakan majas dengan anak matematika yang selalu punya perhitungan.”

“Hahaha. Aku lapar Sheila, ayo kita makan dulu baru kembali ke rumah.”

“Kamu yang traktir kan? Kebetulan aku juga sedang lapar. Hehehhe.”

“Hahaha. Ya aku yang traktir kali ini.”

***

Bintang bertaburan indah di gelapnya langit malam. Aku menikmati segelas kopi dan sebatang rokok yang terapit manis pada jari tengah dan telunjukku. Kepulan asap mengudara, menyebar kemudian hilang. Besok adalah hari peringatan kematian ibu. Aku sudah mendapat pesan dari ayah yang mengabari bahwa besok ia tidak bisa ke pemakaman ibu karena masih ada beberapa urusan yang harus ia selesaikan. Aku tahu ayah sangat mencintai Ibu, bila kali ini ia berhalangan maka pasti di tempatnya berada sekarang, lilin bernyala dan sembahyang dipanjatkan kepada Ibu di surga. Malam semakin larut mengundang sepi mendulang sunyi, aku hendak beranjak ke tempat tidur, tepat saat merebahkan tubuh, dering pesan berbunyi. Pesan dari Sheila.

“Fajar, besok hari kematian Ibumu kan? Aku juga ingin pergi mengunjungi pemakaman Ibu.”

Sheila sangat akrab dengan Ibu. Sewaktu kami kecil, mainan yang dibelikan Ibu bukan untukku saja tetapi juga untuk Sheila. Sheila yang sudah kehilangan Ibu kembali merasa kelembutan kasih Ibu. Bila ia mengalami kesulitan, Sheila tak sungkan membicaraknnya dengan ibu, bahkan mereka pun sering bercanda dan tertawa terbahak karena tingkah Sheila yang suka menggoda abang tukang sayur yang lewat, sekadar trik agar mendapat diskon. Ketika Ibu meninggal Sheila pun merasa kehilangan yang kedua kalinya, namun Ia kuat, tak menangis sejadi-jadinya seperti aku. Justru ia bahkan menghibur dan membangkitkan kembali semangatku.

“Oke Sheila. Kebetulan ayah tak dapat ikut, ia sedang ada pekerjaan. Besok pagi aku jemput.”

Aku membalas pesannya, mematikan lampu dan beristirahat.

 

***

Aku bangun lebih pagi dari biasanya. Menyiapkan roti dan segelas teh untuk sarapan, memebersihkan rumah dan halaman kemudian mandi dan bersiap ke pemakaman Ibu. Bila ke pemakaman Ibu, aku selalu membawa bunga mawar. Ibu sangat menyukai mawar, makanya halaman kami dipenuhi beragam jenis bunga mawar. Katanya mawar itu adalah gambaran kehidupan. Bunga yang indah adalah mimpimu, dan tangkainya adalah jalan yang harus kau lalui, tidak selalu mulus kau akan menemukan duri, terluka tuk beristirahat sejenak dan berjalan lagi hingga mencapai indahnya.

Semua sudah beres, aku segera menyalakan motor lalu menjemput Sheila dan menuju ke pemakaman Ibu.

Setibanya di pemakaman, kami segera membersihkan kubur Ibu yang kebetulan sedikit kotor. Aku menaruh setangkai mawar, dan kemudian kami mulai mengeja sembahyang, memohon berkat Ibu tuk selalu bersama kami setiap harinya. Setelah itu kami mulai menceritakan kembali hal-hal indah bersama ibu, kekonyolan kami yang membuat ibu marah, dan aksi-aksi kami yang terkadang membuat ibu tertawa terbahak-bahak.

“Fajar, aku merindukan Ibu.” ucap sheila tanpa menatapku, pandangannya jauh ke depan bukan ke pemakaman Ibu.

“Aku juga merindukannya. Aku yakin jika ibu masih ada pasti dapur akan menjadi tempat favorit kalian.”

“Hahahahaha, sepertinya begitu.”

Pandangan Sheila masih saja jauh ke depan tanpa melihatku. Tangannya perlahan mulai meyeka matanya. Ia menangis, air matanya berlomba mencium tanah pekuburan.

“Sheila?” Aku mencoba menenangkan dia, memegang kedua lengannya dan mengusap pelan.

“Ibuku meninggal saat aku berusia 2 tahun Fajar. Ibu menderita penyakit Alzheimer, kemampuan ingatannya terus memburuk dan menghambat ia untuk melakukan berbagai aktivitas. Penyakitnya semakin parah ketika aku dilahirkan dan pada akhirnya ibu meninggal dengan riwayat penderita Alzheimer selama 9 tahun.”

Aku baru mengetahui cerita ini setelah sekian lama bersahabat bersama Sheila. Pipi sheila semakin basah, napasnya tersengal, aku mengusap-usap punggungnya agar ia sedikit lebih tenang dan memberinya sebotol air minum.

“Ibumu sangat baik Fajar. Aku benar-benar merasakan kehadiran sosok ibu, merasakan perhatian ibu lewat omelannya, merasakan kasih kelembutannya lewat segala nasihat yang ia beri.” Sheila tersenyum sambil menyeka pipinya yang basah.

“Tentu saja. Jika Ibu masih ada bukan kamar dan halaman kesayangannya saja tetapi dapurnya pun akan aku buat berantakan.”

Kami tertawa sambil menatap makam Ibu yang dipenuhi mawar kesukaannya.

Hari makin siang, teriknya makin makin panas kami pun kembali ke rumah. Aku mengantar Sheila dan kembali ke rumah.

 

***

Seperti biasa, di sore hari waktu luangku, aku gunakan untuk membersihkan rumah dan sedikit berolahraga. Ketika selesai berolahraga aku ke dapur membuat segelas teh dan menikmatinya di halaman rumah. Ayah belum pulang juga, dari pesannya ia akan kembali besok sore jika urusannya telah selesai.

Dari halaman rumah aku melihat Sheila di pinggir jalan sedang berjalan santai menuju ke rumahku sambil memegang sebuah kotak pada tangan kanannya. Menyadari aku telah melihat kedatangannya ia tersenyum dan terus berjalan hingga tiba tepat di hadapanku

“Ini aku bawakan makanan untuk mu, kau sendirian kan?” Sambil menyodorkan kotak makanan yang ia bawa.

“Hehehe, makasih ya, langsung taruh saja di dalam sekalian putar teh milikmu.” Pintaku padanya yang membuat kami tertawa.

Sheila masuk dan beberapa menit kemudian keluar bersama segelas teh di tangannya. Ia mengambil posisi duduk di hadapanku, membuat aku dapat bebas menikmati indah senyum dan lesung pipinya. Kami berceritra banyak hal tentang kampus, teman-temanya dan masa lalu yang membuat kami tertawa, membuat indah senyumnya terus terpajang sepanjang cerita kami sore ini.

“Sheila”

“Hmm?” Sambil menyeruput teh tegukan terakhir, ia menyahut mengangkat kedua alisnya.

“Kau manis.” Sheila seketika terceguk. Aku terkejut sendiri dengan ucapanku. Bukan tawa yang terlepas, namun kali ini kami canggung.

Teh di gelasnya telah habis, langitpun semakin kelabu, Sheila berpamitan pulang. Aku mengutuk diri sendiri, bagaimana bisa keceplosan bicara perasaan tanpa memikirkan apa yang terjadi jika aku mencoba merayunya. Namun Sheila sungguh sangat cantik, aku hanya mencoba untuk jujur.

“Jika rayuan saja tak mampu kuberi bagaimana bisa aku menyatakan cintaku padanya?” Batinku menguatkan diri tuk tak perlu merasa sungkan bila memujinya.

 

***

Sudah seminggu sejak sore itu aku tak lagi melihat Sheila. Tak juga pesan-pesan singkatnya. Aku pun memutuskan setelah membersihkan rumah sore ini aku ke rumahnya.

Di pekarangan rumah Sheila aku melihat ayahnya sedang menikmati kopi dan mengerjkan sesuatu di depan laptop.

“Selamat Sore Om, apakah Sheila ada di rumah?” Ayah sheila mendongak sedikit terkejut melihat kehadiranku.

“Fajar, ada sesuatu yang ingin Om sampaikan sebelum kau bertemu dengan Sheila. Duduklah di sini dulu nak.” Ayahnya mempersilahkanku duduk dan berbicara dengan nada sedikit bergelisah.

Aku duduk, debar jantungku tak karuan, gemuruhnya mengundang hasrat untuk bertanya ada apa, namun kutahan hingga ayahnya membuka percakapan.

“Nak ayah tak tahu harus memulainya dari mana. Sheila sekarang sedang tidak baik-baik saja.”

“Sheila kenapa om?” Aku begitu khawatir dengan keadaanya.

“Ia menderita penyakit yang sama dengan ibunya. Ia menderita Alzheimer, kemampuan ingatannya lambat laun semakin berkurang. Dia selalu mencatat setiap peristiwa agar tak sampai melupakan hal-hal penting dalam setiap hari hidupnya. Tentang kamu dan keluargamu, tentang sekolahnya bahkan tentang aku, ayahnya. Itu juga menjadi alasan ia ingin menjadi seorang jurnalis, agar ia semakin bebas mempunyai ruang untuk menulis kisahnya.”

Ayahnya mengutarakan keluh dengan mata sedikit basah. Begitu pula aku.

“Minggu lalu, ketika Ia pulang dari rumah mu, ia begitu gembira, berceritra kepada ku tentang kau yang memuja kecantikannya. Ia menulisnya,  namun ketika malam ia membaca kembali kisah tentang ibunya ia bersedih, menangis dan mengkhawatirkan cinta kalian. Ia sangat menyayangimu dan memikirkan keadaannya yang berkemungkinan besar bernasib seperti ibunya, ia tak mau kau merasa kehilangan lagi. Sebelum cinta kalian terlalu jauh, ia memutuskan untuk sudahi saja dan memilih untuk tidak menghubngimu. Ia jatuh sakit dan ingatannya semakin parah.”

Ayah Sheila bangkit berdiri mengambil sebuah buku dan memberikannya padaku.

“Ini adalah catatan Sheila untukmu.”

Tepat pada sampul buku itu tertulis namaku.

“FAJAR (SURYA YANG TERBIT DAN TENGGELAM DALAM INGATANKU )”

Air mataku mengalir deras membasahi pipi. Aku tak kuasa menahan raga tuk bertemu dengan Sheila. Aku berlari ke kamarnya, mendapati dirinya sedang duduk menatap ke luar jendela. Ia berbalik dan tersenyum padaku.

“Sheila, kau baik-baik saja kan?”

“Maaf, kamu siapa ya?” Sheila tersenyum ramah menatapku.

Aku tak percaya ini. Aku memeluknya dengan tangisan yang mengalir deras. Ia diam dan berbisik lembut,

“Aku tak mengenalmu. Apakah kau baik-baik saja?”

“Aku Fajar. Surya yang terbit dan tenggelam dalam ingatanmu.”

 

***

 

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten Ini Terlindungi !!!
Please disable your adblock for read our content.
Segarkan