Oleh : Gabriella Thie, S. Par *)

Saat ini pandemi COVID19 sudah jauh berkurang, begitu juga dengan peraturan-peraturan yang ditetapkan saat pandemi sudah mulai dilonggarkan, terutama yang terkait dengan bisnis pariwisata.

Hal ini membuat para wisatawan lokal maupun mancanegara tentunya sudah mulai mempersiapkan kembali itinerary yang mungkin telah disusun sesaat sebelum pandemi dimulai.

Travelling mungkin menjadi hobby sebagian besar orang untuk menghilangkan stress dalam pekerjaan, ataupun sekedar melarikan diri dari keramaian dan hiruk pikuk perkotaan.

Untuk me-refresh kembali pikiran biasanya kawasan wisata yang dituju adalah wisata alam, karena keindahan alam di setiap tempat memiliki ciri khas masing masing.

Dari berbagai wisata alam yang dapat dikunjungi, kawasan wisata pantai menjadi salah satu tempat favorit, karena dengan melihat garis “where the sky meets the sea” serta berjalan di hamparan pasir putih membuat kita menjadi lebih relax.

Sebuah lokasi dapat disebut sebagai kawasan pariwisata apabila memiliki prinsip 3A yaitu atraksi, aksesibilitas, dan amenitas.

Atraksi bisa berupa keindahan alam, peninggalan bersejarah, dan budaya masyarakat sekitar. Aksesibilitas bisa berupa infrastruktur, signage, dan transportasi. Amenitas yaitu fasilitas pendukung destinasi wisata seperti hotel, restoran, toko souvenir, dan lain-lain.

Sebuah destinasi wisata tidak dapat berjalan sendiri tanpa adanya dukungan dari masyarakat sekitar, pebisnis, maupun pemerintah. Sehingga, untuk menciptakan sebuah destinasi wisata yang balance, perlu adanya kerja sama yang baik antar ke 3 komponen tersebut, serta pelayanan yang baik oleh manajemen.

Untuk menciptakan pelayanan yang baik, tentunya harus memiliki SOP yang lengkap dan kemudian diterapkan kepada SDM yang berkualitas yang sudah lolos training.

Menularkan hal-hal postif tentunya tidaklah mudah dan instan, pengelola harus mampu untuk menjadikan hal-hal positif tersebut menjadi bagian dari manajemen pengelola itu sendiri, melalui keseharian para pekerja ataupun masyarakat sekitar, agar menjadi budaya perusahaan/manajemen itu sendiri.

Seperti yang terlihat saat ini di Kawasan wisata Triton, khususnya pasir pink menjadi salah satu destinasi wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Tetapi karena kurangnya “sense of belonging” atau kesadaran akan rasa memiliki, sehingga kebanyakan wisatawan mengambil pasir yang dianggap “unik” tersebut hanya semata-mata untuk dijadikan souvenir.

Padahal tempat yang dianggap “unik” tersebut seharusnya dijaga dan dirawat, agar tetap sustain menjadi ikon destinasi wisata tersebut dan kemudian diwariskan untuk anak cucu kita nantinya.

Selain itu juga, jika adanya rasa memiliki, maka tempat wisata dimanapun itu, akan lebih terawat karena adanya kesadaran dan komitmen akan kebersihan. Selain itu perlu diletakkan tempat sampah di tempat-tempat wisata, sehingga wisatawan tidak membuang sampah sembarangan.

Dengan tingginya “Sense of belonging” ini maka tentunya akan berdampak baik terhadap perkembangan pariwisata, sehingga untuk menciptakan budaya baru, tentunya dimulai diri kita sendiri, selaku masyarakat.***

 

* Penulis adalah Mahasiswa Magister Manajemen, Fakultas Manajemen dan Bisnis, Universitas Ciputra Surabaya

 

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten Ini Terlindungi !!!
Please disable your adblock for read our content.
Segarkan