Sekda Kaimana ; Film Maira Angkat Nama Kaimana ke Kancah Nasional
KAIMANA, KT- Film “Maira” yang rencananya akan tayang perdana 5 Februari 2026 mendatang, mendapat tanggapan dan respon positif dari publik. Bahkan, hadirnya film ini pun menjadi viral di kancah perfilman Nasional saat ini.
Tanggapan itu tidak hanya datang dari kalangan masyarakat, bahkan para pejabat pun turut mengapresiasi atas keberhasilan film tersebut, walaupun special screening tidak dapat ditayang di Kabupaten Kaimana, dimana lokasi dan tempat film ini dibuat, karena keterbatasan fasilitas seperti bioskop. Namun kini, Maira telah menyedot perhatian publik untuk menonton pada acara pemutaran perdana nantinya.
Sekertaris Daerah (Sekda) Kaimana, Donald R. Wakum, saat dimintai tanggapannya di ruang kerjanya, Kamis (22/1/26) mengapresiasi hadirnya film layar lebar ini.
“Nanti setelah 5 Februari, kita akan upayakan untuk diputar juga di Kaimana, meski dalam bentuk layar lebar, untuk masyarakat Kaimana,” ujar Sekda Kaimana ini.
Dikatakan, setelah dirinya mengetahui Film Maira ini, lanjut Sekda, pembuatan film ini membutuhkan waktu yang panjang dan diproduksi oleh Aksa Bumi Langit, yang adalah salah satu produksi film di Indonesia.
“Mereka, para produser begitu antusias untuk melihat potensi Kaimana, karena film pertama yang mereka produksi itu adalah Tegar. Di dalam film pertama itu salah satu pemerannya bernama Tehnisi. Tehnisi itu pembantunya Tegar, yang membantu Tegar untuk memfasilitasi dia, karena Tegar ini seorang anak yang mengalami disabilitas, sehingga ada yang membantu aktivitas kesehariannya,” jelasnya.
Dia mengatakan, Tehnisi ini diperankan oleh Yohanita Chaterine Veroni Wakum, yang merupakan salah satu anak Kaimana.
Dikatakan, dari Yohanita ini kemudian berdiskusi dan berkomunikasi dengan produser untuk mengembangkan film kedua yang berjudul Maira, dan akhirnya dibuat di Kaimana.
Dikatakan, setelah berkomunikasi dengan Yohanita, produser mendatangi Kaimana untuk melakukan riset, kurang lebih tiga bulan lamanya, kemudian menulis alur ceritanya.
“Jadi pasca melakukan riset dan penulisan narasi, produser kembali lagi ke Kaimana dengan timnya dan menginap di Lobo, dan beberapa kampung pedalaman lainnya, untuk pembuatan film yang kurang lebih enam bulan lamanya,” jelas Sekda.
Menurut dia, film Maira ini sangat bagus, karena pesan yang mau diangkat ialah tentang lingkungan hidup, kearifan lokal, budaya dan potensi wisata Kaimana.
Sekda juga mengaku, jika di akhir produksi film ini, Pemerintah Daerah juga sedikit memberikan kontribusi untuk membantu transportasi dan hal-hal lain yang ada di lapangan.
“Memang kita dukung, karena mereka minta bantuan. Sebenarnya, biaya seluruhnya mereka tanggung, namun untuk lokal waktu itu di Kaimana mereka meminta dukungan juga dari Pemda Kaimana, yah sudah kita bantu mereka, karena ini juga diharapkan dapat mengangkat nama Kaimana,” jelas Sekda lagi.
Dia sangat bersyukur, karena pembuatan film ini special screeningnya mulai muncul di beberapa Kota di Tanah Papua, 16 sampai 20 Januari dan akan dilakukan penayangan perdananya, 5 Februari 2020 nanti.
“Saya kira momentum yang pas, karena 5 Februari itu juga adalah momen Injil masuk di Tanah Papua. Kita berdoa agar film ini bisa mengangkat nama Kaimana, selain dari mereka sendiri yang punya kepentingan untuk bisnisnya, tetapi kita juga diuntungkan karena Kaimana bisa lebih dikenal di dunia luar, termasuk juga bagaimana potensi-potensi alamnya, potensi wisatanya dan juga kearifan lokal masyarakat, kehidupan sosio-kultur masyarakat yang bisa dikenal oleh masyarakat manca negara pada umumnya dan masyarakat Indonesia pada khususnya. Karena menurut informasi, film ini juga akan rencana ditayangkan di luar Negeri,” pungkasnya.
Maira telah menyita perhatian publik se Tanah Papua, yang dibantu sedikit suntikan dana dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kaimana. Bagaimana dengan Film 7 Senja, yang dibantu cukup besar oleh Pemkab Kaimana, yang hingga kini belum ada informasi kelanjutannya?(JRTC-R1)

