Potret Abdul Mutalib Ladia dan Home Industri Penyulingan Minyak Lawang di Kaimana

0

Laporan : Laurensisus Mitan

Pandemi Covid 19 yang saat ini melanda Indonesia termasuk di Kaimana, tak menyurutkan kerja keras Abdul Mutalib Ladia dan Halima Rumatup, untuk terus menjalani usaha home industri penyulingan minyak Atsiri, Itif Saumbu miliknya.

Dia bersama istrinya, terus menggeluti usaha ini. Tak sia-sia, usahanya yang dirintis hampir 14 tahun lamanya ini, telah meluluskan 2 anaknya menjadi sarjana. Benar-benar, hasil tak pernah mengkhianati proses.

Ditemuinya di tempat usahanya di Kaki Air Kaimana, Abdul Mutalib Ladia dan istrinya, Halima Rumatup, sedang menekuni beberapa bahan rempah-rempah yang sedang disiapkannya untuk memasak minyak lawang.

Meski wajahnya kelihatan semakin tua, namun semangatnya tetap berkobar, untuk memproduksi minyak lawan dan minyak buah merah untuk dipasarkan di seluruh Indonesia.

Bahkan, permintaan minyak lawing Kaimana ini pun tembus hingga Jawa, Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi. Meski dengan keterbatasan sarana dan prasarana pendukung, namun mereka terus bekerja keras, memenuhi permintaan pelanggan.

“Nama Itif Saumbu ini, saya ambil dari bahasa Mairasi yang artinya Mama Janda. Kenapa saya memakai nama Itif Saumbu, karena mengingatkan saya kepada mama angkat saya, begitu saya lahir, saya diambil ke Sisir tahun 1947. Di sana, saya dibuatkan adat, semacam, upacara adat untuk kelahiran saya. Lalu, setelah itu saya pun akhirnya kembali ke orangtua kandung saya. Hal ini yang membuat saya memakai nama usaha home industri penyulingan dengan nama Itif Saumbu,” jelasnya sedikit terbata mengingatkan.

Dikatakan, usaha penyulingan minyak ini, dimulai sejak tahun 2006 lalu.

“Usaha ini dimulai dengan modal sendiri. Modalnya tidak banyak, waktu itu hanya sebesar Rp. 1.000.000 saja. Penyulingan ini pun sebenarnya hanya untuk kebutuhan keluarga saja. Namun, seiring berjalannya waktu, hasil penyulingan kami mendapatkan respon dari masyarakat Kaimana. Akhirnya, usaha ini pun terus kami kembangkan. Dan Alhamdulillah, lewat usaha penjualan minyak lawang dan minyak buah merah, kami berhasil menyekolahkan 3 anak, dua anak sampai lulus sarjana,” akunya.

Pembuatan minyak lawing ini, diolah dari kulit kayu lawang yang sudah berumur 25 sampai 60 tahun. Karena semakin tua semakin bagus, panasnya kualitas.

Untuk harga penjualannya, khusus untuk minyak lawang satu liter dibandrol seharga Rp. 800.000, begitu juga dengan harga minyak buah merah.

“Kalau bahan-bahannya tidak didatangkan dari luar, semuanya sudah tersedia di sini. Kalau untuk kualitas minyak lawing, sebenarnya ada lima belas macam yang bisa disuling. Tapi yang bisa saya suling hanya tujuh. Sedangkan yang dipasarkan hanya dua macam, yaitu minyak lawang dan minyak buah merah,” ujarnya lagi.

Disinggung soal potensi usahanya ini, kata dia, kalau dilihat dari potensi pengembangan usaha ini, khususnya di Kaimana, sangat berpotensi besar, karena alam Kaimana yang begitu mendukung.

“Minyak lawang yang kami produksi dihitung per tahun, karena setiap tiga bulan baru kami produksi, karena kami juga tersedat modal usaha. Dalam satu tahun, kita bisa dapat 20 liter, paling sedikit 18 liter. Hasil penyulingan itu, dibagi ke dalam botol-botol yang ukurannya 150 ml. Untuk sebotolnya, diambil 30 sampai 40 persen termasuk pajak, terus ongkos penutup botol dan label botol dihitung semua,” aku sembari mengatakan, minyak lawing hasil produksinya sudah berlabel.

Dia juga mengatakan, untuk kualitas minyak yang bagus, memang produksinya memakan waktu yang cukup lama.

“Kalau produksi minyak lawing, bisa sampai dua hari, sedangkan buah merah dimasak harus sebanyak empat kali. Itu pun memakan waktu selama 2 hari.

Kalau dijual per botol minyak lawang Rp. 125.000 kalau minyak buah merah Rp. 100.000 per botol.

Sementara itu, salah seorang kerabatnya, La Ane Ladia dalam keterangannya juga mengaku, jika usaha yang ditekuni kakaknya ini sangat membantu masyarakat Kaimana.

“Artinya, kayu lawang dan buah merah dari masyarakat Papua yang ada di Kaimana ini bisa dijual ke sini. Jadi jumlah yang diambil pun sangat banyak, karena untuk produksi lebih banyak,” akunya.

Dia pun sangat berharap, agar ada perhatian dari pemerintah daerah.

“Memang kendala kami saat ini yakni modal usaha yang masih minim,” pungkasnya.(REN-R1)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten Ini Terlindungi !!!
Please disable your adblock for read our content.
Segarkan