Petani di Kaimana Mulai Mandiri, Lahan Perkebunan Pisang Tembus 100 Hektar
Hasil produksi pisang Kaimana yang hendak dikirim ke Timika, saat berada di Pelabuhan Laut Kaimana. (FOTO: RIS)
KAIMANA, KT- Sektor pertanian di Kabupaten Kaimana menunjukkan progres yang sangat positif. Para petani lokal kini dilaporkan sudah mulai mandiri dalam mengelola perkebunan mereka.
Berdasarkan data terbaru, total luas lahan komoditas pisang yang berhasil dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat kini telah mencapai 100 hektar.
Keberhasilan peningkatan produksi ini mendapat apresiasi langsung dari Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kaimana, Alexander Furay.
Dia mengaku sangat bangga melihat kemandirian para petani yang mampu memperluas lahan pertanian mereka secara signifikan.
“Saat ini untuk pengembangan pisang, pemerintah daerah melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian sudah melepas pendampingan langsung ke para petani, karena mereka sudah mandiri. Intervensi kami sekarang hanya berfokus pada pemberian support pembibitan yang langsung diserahkan kepada kelompok tani,” ujar Alexander Furay saat memberikan keterangan di ruang kerjanya, Selasa (21/10/26).
Berdasarkan sebaran wilayahnya, dari total 100 hektar lahan yang ada, populasi tanaman pisang terbanyak berada di wilayah Distrik Kaimana.
Selain itu, perluasan lahan juga sudah mulai merambah ke wilayah Distrik Kambrauw, meskipun perkembangannya belum menyeluruh ke seluruh sektor distrik.
Ada beberapa varietas unggulan yang saat ini mendominasi perkebunan warga, di antaranya adalah Pisang Pandawaka, Pisang Nona, Pisang Abu-abu, dan Pisang Cavendish.
Tidak hanya itu, atas anjuran Bupati Kaimana, pemerintah daerah saat ini tengah menyiapkan pembibitan Pisang Manado yang dinilai memiliki keunggulan lebih dibanding jenis pisang lainnya untuk ikut dikembangkan.
Alexander secara khusus menyoroti keberhasilan produksi varietas Pisang Nona. Hasil panen jenis ini terbukti sukses dan melimpah, bahkan telah mampu mengover kebutuhan buah-buahan lokal, khususnya untuk menyukseskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kaimana.
Nilai plus lainnya, komoditas pisang dikenal memiliki daya tahan tinggi terhadap cuaca ekstrem. Meskipun dihadapkan pada musim kemarau panjang atau bahkan lahannya sempat terbakar, tanaman ini tetap kuat bertahan dan akan kembali tumbuh subur saat musim hujan tiba.
Kendati mengalami surplus produksi bahan baku, Alexander tidak menampik adanya tantangan besar yang dihadapi petani. Faktor konektivitas atau akses transportasi dari titik lokasi produksi (perkebunan) menuju ke pasar lokal maupun luar daerah hingga kini masih menjadi kendala utama.
Di sisi lain, hilirisasi produk juga belum berjalan maksimal. Pemerintah daerah berharap ada sinergi dengan instansi teknis lain serta sektor swasta untuk mulai melirik potensi industri pengolahan.
“Kami dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian tugasnya sudah selesai untuk menyediakan produksi dan bahan bakunya. Sekarang tinggal bagaimana instansi teknis terkait atau sektor industri mana yang mau masuk untuk mengembangkan produk turunan dari pisang ini, karena potensinya sangat besar dan butuh penanganan yang serius,” pungkasnya.(ARI-R1)
