Cerita Mama-mama Papua di Tengah Covid 19; ‘Keluar Mati, Tak Keluar pun Lebih Mati’

0

KAIMANA, KT- Mama-mama Papua yang berasal dari 5 Kampung di Distrik Kaimana, yakni Kampung Marsi, Sisir, Foroma Jaya, Murano dan Mai-Mai, tak pernah surut dari perjuangan mereka untuk menghidupi ekonomi keluarga.

Meski di tengah pandemi covid 19 ini, mereka terus berjualan di sepanjang emper toko di ruas Jalan Trikora Kota Kaimana.

Asnat Naguasai dan Miriam Naguasai, dua kakak beradik dari Kampung Murano ini mengatakan, mereka selama ini datang ke Kota Kaimana hanya untuk menjual hasil kebun mereka.

“Memang takut pak dengan corona ini, tetapi bagaimana dengan kehidupan kami? Mau keluar jualan juga mati, tetapi kalau tidak keluar untuk jualan, lalu kami makan apa?” tegas Asnat dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu (6/5/2020).

Dia juga mengaku, hingga saat ini belum ada bantuan sembako yang mereka terima di tengah pandemi covid 19 ini, sehingga terpaksa mereka harus berjualan untuk menghidupi keluarga mereka.

Dikatakan, hasil pertanian yang dijual ini merupakan hasil kebun, tetapi meski pun sedikit dari untung yang diperoleh tersebut, hanya untuk membeli kebutuhan hidup mereka, seperti beras, garam, ajinomoto, sabun dan minyak tanah.

“Kami datang dengan longboat dan terus ke kota dengan menumpang taksi. Kalau untuk taksi kami bayar 20.000 per kepala. Belum lagi kami harus beli minyak untuk jonson,” akunya sambil mengatakan, untung dari hasil jualannya ini lebih banyak untuk operasional, ketimbang untuk kebutuhan pokoknya.

Disinggung soal bantuan sembako, kata dia, seharusnya bantuan sembako untuk warga di tengah pandemi covid 19 ini, segera didistribusikan, sehingga mereka terbantu.

“Yah, kalau tidak laku, kita jual dengan harga murah. Biasanya ada yang datang ambil dari pasar, kalau sudah mulai sore,” akunya.

Paulina Sernau, warga Murano lainnya pun mengaku, jika hasil pertanian yang mereka jajahkan di emper-emper petokoan, tidak saban hari, karena disesuaikan dengan hasil pertanian yang mereka punya.

“Kami kalau tidak mau keluar, lalu hasil pertanian kami mau kamu jual ke mana pak? Palingan hanya di Kota ini saja yang bisa beli hasil pertanian kami,” ujarnya.

Hal senada pun disampaikan beberapa pedagang asli Papua lainnya dari beberapa kampung di kawasan Teluk Mairasi.

Mereka mengaku, jika karena corona ini, mereka dilarang untuk berjualan, maka kehidupan ekonomi mereka akan semakin buruk, karena sejumlah kebutuhan lainnya harus dibeli di Kota Kaimana.

“Kalau kitong hanya makan makanan kampung saja bisa, tetapi bagaimana dengan kebutuhan pokok lainnya yang harus kami beli di Kota? Jadi kalau tidak keluar dari kampung dan jualan, lalu kami beli barang kebutuhan pokok lainnya dengan apa?” tegas salah seorang ibu dari Kampung Foroma Jaya yang tidak ingin namanya diberitakan.

Dia sangat berharap agar, jika bantuan sembako atau bantuan langsung tunai yang diberikan oleh pemerintah, sebaiknya disalurkan kepada seluruh warga kampung, sehingga mereka tidak lagi berjualan di Kaimana dalam memutuskan mata rantai penyebaran covid 19 ini.(ANI-R1)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten Ini Terlindungi !!!
Please disable your adblock for read our content.
Segarkan