Cerita Warga Wosokuno Kaimana, Jalan Kaki 18 Km, Sulitnya Akses, hingga Diterjang Banjir

0

Tiga warga Kampung Wosokuno, saat menyebarang sungai untuk menggapai kampung mereka di tengah banjir yang deras.(FOTO: ISTIMEWA)


KAIMANA, KT- Wosokuno adalah salah satu kampung terjauh di Distrik Yamor Kabupaten Kaimana, yang hingga saat ini belum mendapatkan sentuhan dari pemerintah, baik pemerintah Kabupaten, Provinsi maupun Pusat.

Akses jalan ke Wosokuno yang hanya jalan setapak, membutuhkan perjuangan yang teramat panjang.

Dari pelabuhan tambatan perahu, tempat mereka menyandarkan longboat, warga harus berjalan kaki sejauh 18 km untuk mencapai kampung.

Tak ada jembatan. Kadang warga setempat harus tidur di tengah jalan, ketika banjir menghadang di beberapa anak sungai.

Meski demikian, warga di kampung tersebut masih tetap melaksanakannya aktivitas, turun naik ke Kota Kaimana untuk sekedar menjual hasil pertaniannya, membeli bahan kebutuhan pokok, mengurus keperluan serta urusan lainnya.

Suka duka menggapai Wosokuno, diceritakan oleh sebagian kecil warga kepada wartawan. Mereka pun sangat berharap agar, ada program pembukaan ruas jalan dari pelabuhan tempat tambatan perahu menuju ke kampung mereka yang berjarak kurang lebih 18 km.

Boni Kawa, S.Pd, salah seorang tenaga pendidik di Wosokuno, kepada www.kabartriton.net menuturkan, keluhan warga Kampung Wosokuno ini, baik itu guru maupun petugas kesehatan, masih pada nada yang sama, beri kami fasilitas yang baik.

“Kalau hujan deras, kami harus berenang dari pinggir kali ke seberang. Kadang, beras yang kami bawa pun basah, termasuk bahan kebutuhan pokok lainnya. Belum lagi ditambah dengan binatang buas, yang sewaktu-waktu bisa mengancam kami,” tuturnya kepada wartawan belum lama ini.

Dia mengatakan, sejak kampung tersebut dibangun, dari genereasi ke generasi, kondisi Wosokuno masih tetap terpencil.

Sulitnya akses tersebut, lanjut dia, menyebabkan kawasan itu menjadi kawasan terisolir dari segala macam perkembangan, baik ilmu pengetahuan, pendidikan dan kesehatan.

“Kami hanya berharap satu, yakni pemerintah harus serius memperhatikan masyarakat yang berada di pelosok. Jangan perlu daging, kasih masyarakat tulangnya saja. Kami ini juga Rakyat Indonesia yang butuh perhatian dari pemerintah pusat,” pungkasnya, sambil berharap pemerintah pusat bisa mengembangkan kawasan itu menjadi kawasan yang memiliki nilai ekonomi baik dalam mengembangan Yamor menjadi pusat ekonomi baru di Timur Kabupaten Kaimana.(ANI-R1)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten Ini Terlindungi !!!
Please disable your adblock for read our content.
Segarkan