...

Fatherless dan Luka Batin Laki-Laki

0
Fatherless dan Luka Batin Laki-Laki

Oleh: Rahmiani Tiflen, S.Kep *)

 

Di balik wajah manusia yang tampak baik-baik saja, ternyata banyak jiwa sedang bertarung diam-diam dengan tekanan hidupnya sendiri. Dunia hari ini dipenuhi manusia yang lelah secara mental, tetapi dipaksa tetap terlihat kuat. Ironisnya, salah satu kelompok yang paling jarang diberi ruang untuk rapuh adalah laki-laki. Mereka dituntut menjadi kuat, mapan, stabil, tahan banting, dan mampu memikul semua beban hidup sendirian. Namun di saat yang sama, sistem kehidupan modern justru menghancurkan banyak hal yang membuat laki-laki mampu bertahan secara mental dan ruhiyah. Akibatnya, semakin banyak manusia kehilangan arah hidup, mengalami krisis identitas, depresi, bahkan memilih mengakhiri hidup.

————–

Fenomena dan Fakta

 

Data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Bareskrim Polri menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025 tercatat sekitar 1.492 kasus bunuh diri di Indonesia, dengan rata-rata lebih dari 100 kasus per bulan. Peningkatan signifikan bahkan terjadi pada kelompok usia muda, khususnya Generasi Z dan Milenial.

 

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga mencatat ratusan kasus bunuh diri pada anak dan remaja dalam beberapa tahun terakhir. Faktor pemicunya beragam, mulai dari konflik keluarga, pola asuh, perundungan (bullying), tekanan ekonomi, hingga rasa kehilangan arah hidup.

 

Di sisi lain, Indonesia juga sering disebut sebagai salah satu negara dengan tingkat fatherless tertinggi di dunia. Fenomena fatherless bukan hanya tentang ayah yang tidak hadir secara fisik akibat perceraian atau kematian, tetapi juga ayah yang hadir secara jasad namun absen secara emosional dan psikologis dalam kehidupan anak.

 

Banyak ayah hari ini habis dimakan tekanan hidup. Mereka bekerja panjang demi memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi kehilangan energi untuk benar-benar hadir bersama anak-anaknya. Mereka pulang dalam keadaan lelah, emosinya kosong, pikirannya penuh beban ekonomi, dan waktunya habis untuk bertahan hidup.

 

Kondisi ini menjadi lebih kompleks di daerah-daerah seperti Papua Barat dan Kabupaten Kaimana. Keterbatasan akses layanan kesehatan jiwa, minimnya dokter spesialis (jiwa), serta tantangan sosial yang ada membuat banyak masyarakat menghadapi tekanan mental tanpa dukungan yang memadai.

 

Di Kabupaten Kaimana sendiri, layanan kesehatan jiwa masih sangat terbatas. Penanganan pasien gangguan jiwa banyak bergantung pada petugas Puskesmas yang berkonsultasi jarak jauh dengan dokter spesialis dari luar daerah.

 

Semua ini menunjukkan bahwa krisis kesehatan mental bukan hanya persoalan medis, tetapi berkaitan erat dengan kondisi keluarga, lingkungan sosial, dan sistem kehidupan manusia secara keseluruhan.

——————

Analisis

 

Yang menarik, sebagian besar penyebab bunuh diri justru berakar pada relasi sosial: konflik keluarga, pola asuh, keterasingan, tekanan sosial, perundungan, dan rasa kehilangan makna hidup.

 

Ini menunjukkan bahwa manusia sejatinya tidak cukup hanya diberi fasilitas materi. Mereka membutuhkan keterhubungan emosional, rasa dicintai, rasa dihargai, dan tujuan hidup yang jelas.

 

Namun sistem kehidupan kapitalistik hari ini justru bergerak ke arah sebaliknya. Sistem ini, membuat manusia hidup dalam kompetisi tanpa henti. Nilai seseorang diukur dari produktivitas, materi, dan pencapaian duniawi. Laki-laki khususnya dipaksa menjadi “mesin ekonomi” yang terus dituntut kuat dan berhasil.

 

Akibatnya, banyak laki-laki tumbuh dengan tekanan mental yang dipendam sendirian. Mereka takut dianggap lemah jika menangis, takut dianggap gagal jika tidak mapan, dan takut kehilangan harga diri jika tidak mampu memenuhi standar sosial.

 

Padahal laki-laki juga manusia. Mereka bisa lelah, terluka, kecewa, bahkan hancur secara batin. Ironisnya, di saat tuntutan terhadap mereka semakin besar, fondasi pembentukan jiwanya justru semakin rusak akibat fenomena fatherless.

 

Anak laki-laki belajar menjadi pria sejati pertama kali dari ayahnya. Darinya, mereka belajar tentang keberanian, tanggung jawab, ketegasan, kepemimpinan, hingga cara menghadapi masalah hidup. Ketika figur itu kosong, banyak anak tumbuh dalam kebingungan identitas dan luka emosional yang tidak terselesaikan.

 

Mungkin di sinilah salah satu perbedaan besar antara generasi hari ini dengan generasi salaf terdahulu.

 

Rasulullah Saw. sendiri lahir dalam keadaan yatim. Imam Syafi’i kehilangan ayahnya sejak kecil. Namun mereka tetap tumbuh menjadi manusia besar karena hidup dalam lingkungan masyarakat yang masih memiliki ikatan sosial, tanggung jawab kolektif, dan sistem nilai Ilahiyah yang kokoh.

 

Peran ayah tidak hanya ditopang individu biologis, tetapi juga oleh keluarga besar, kerabat, ulama, dan masyarakat yang hidup dalam suasana keimanan.

 

Sementara hari ini, banyak anak bukan hanya kehilangan figur ayah, tetapi juga hidup dalam masyarakat yang sama-sama rapuh. Komunitas melemah. Hubungan keluarga renggang. Keteladanan laki-laki dewasa semakin minim. Bahkan masyarakat sendiri sedang sibuk bertahan dengan problem hidupnya masing-masing. Inilah yang membuat krisis generasi hari ini jauh lebih kompleks.

 

Dalam pandangan Islam, manusia bukan sekadar makhluk biologis atau kumpulan reaksi psikologis sebagaimana dijelaskan paradigma materialistik modern. Islam memandang manusia sebagai materi hidup yang memiliki jasad sekaligus kepribadian yang dibentuk oleh aqliyah dan nafsiyah.

 

Aqliyah adalah pola berpikir manusia dalam memahami dan menilai sesuatu berdasarkan mafahim (pemahaman) yang dia yakini. Sedangkan nafsiyah adalah pola sikap dan kecenderungan manusia dalam memenuhi gharizah (naluri) dan hajatul udwiyah (kebutuhan jasmani) sesuai standar nilai yang dianutnya. Dari sinilah terbentuk syakhshiyah (kepribadian) manusia.

 

Sebab itu, manusia tidak hanya digerakkan oleh kebutuhan fisik, tetapi juga oleh sistem pemikiran dan nilai hidup yang membentuk cara dia memandang dunia, dirinya sendiri, serta tujuan hidupnya.

 

Adapun ruh dalam konteks ini perlu dipahami secara tepat. Ruh yang dimaksud bukanlah sirrul hayah (rahasia hidup) yang membuat manusia hidup secara biologis. Sebab sirrul hayah adalah sesuatu yang berada di luar jangkauan akal manusia dan menjadi urusan Allah Swt.

 

Yang dimaksud ruh di sini adalah idrak shilah billah—kesadaran manusia akan hubungannya dengan Allah Swt sebagai Al-Khaliq. Ketika manusia menyadari bahwa dirinya adalah makhluk ciptaan Allah yang terikat dengan aturan, tujuan, dan pengawasan-Nya, maka di situlah aspek ruhiyah manusia bekerja.

 

Dengan kata lain, aspek kerohanian manusia dalam Islam bukan sekadar pengalaman emosional atau spiritual abstrak, melainkan kesadaran mendalam tentang hubungan antara makhluk dengan Sang Pencipta.

 

Inilah yang membedakan paradigma Islam dengan pandangan sekuler modern. Sistem sekuler cenderung memandang manusia secara materialistik: cukup dipenuhi kebutuhan fisik, ekonomi, dan psikologisnya. Akibatnya ketika manusia mengalami krisis makna hidup, kehilangan orientasi ruhiyah, atau tercerabut dari tujuan penciptaannya, sistem modern sering gagal memberikan jawaban yang benar-benar menenangkan jiwanya.

 

Padahal banyak krisis mental hari ini sebenarnya bukan hanya persoalan tekanan sosial atau kondisi psikologis semata, tetapi juga krisis makna hidup dan keterputusan manusia dari Rabb-nya.

 

Ketika manusia hidup hanya untuk mengejar materi, status sosial, validasi publik, dan kesenangan duniawi, maka jiwanya akan mudah rapuh saat semua itu runtuh. Sebab dia tidak memiliki sandaran transendental yang membuatnya mampu memaknai ujian hidup.

 

Di sinilah Islam menghadirkan konsep ketahanan jiwa yang berbeda, yang tidak menafikan kesedihan, tekanan mental, atau kelemahan manusia. Namun membangun manusia agar memahami bahwa hidup bukan sekadar perjalanan duniawi, melainkan bagian dari penghambaan kepada Allah Swt.

 

Kesadaran ruhiyah inilah yang membuat manusia memiliki orientasi hidup yang lebih kokoh. Ia memahami bahwa dirinya bukan sekadar individu yang sedang bertarung sendirian di dunia, tetapi seorang hamba yang selalu berada dalam pengawasan, pertolongan, dan kasih sayang Rabb-nya.

———————

Solusi

 

Islam memandang manusia bukan sekadar tubuh dan pikiran, tetapi juga makhluk yang memiliki kebutuhan ruhiyah. Sebab itu, penyelesaian masalah kesehatan mental tidak cukup hanya dengan pendekatan medis, meskipun layanan kesehatan jiwa tetap sangat penting.

 

Yang dibutuhkan manusia hari ini adalah pemulihan fitrah kehidupan.

 

Pertama, mengembalikan fungsi keluarga sebagai tempat perlindungan jiwa, bukan sekadar tempat tinggal. Ayah harus kembali hadir bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi sebagai pemimpin, pendidik, dan pelindung emosional keluarga. Sementara ibu menjadi madrasah pertama yang membangun ketahanan jiwa dan keimanan anak-anaknya.

 

Kedua, membangun kembali masyarakat yang peduli dan saling menopang. Dalam Islam, pendidikan generasi bukan hanya tanggung jawab keluarga inti, tetapi juga tanggung jawab masyarakat. Anak-anak membutuhkan lingkungan yang menghadirkan keteladanan, kepedulian, dan suasana keimanan.

 

Ketiga, membangun ketahanan ruhiyah generasi sejak dini. Anak laki-laki perlu diajarkan bahwa menjadi kuat bukan berarti memendam semua luka sendirian. Mereka perlu diajarkan cara memahami emosi, menghadapi kegagalan, meminta pertolongan, dan membangun kesadaran hubungan dengan Allah Swt dalam setiap fase kehidupannya.

 

Keempat, negara juga wajib menghadirkan sistem kehidupan yang mendukung kesehatan mental masyarakat: pendidikan yang sehat, layanan kesehatan jiwa yang memadai, perlindungan sosial, serta sistem ekonomi yang tidak menindas manusia hingga kehilangan makna hidupnya.

 

Sebab selama manusia terus hidup dalam sistem yang menjadikan materi sebagai ukuran utama kebahagiaan, maka krisis mental akan terus meluas.

——————–

Penutup

Fenomena fatherless, rapuhnya mental laki-laki, meningkatnya kasus bunuh diri, dan krisis kesehatan jiwa sebenarnya bukan sekadar masalah individu. Semuanya adalah cermin rusaknya peradaban modern yang gagal menjaga fitrah manusia.

 

Hari ini, manusia semakin terkoneksi secara digital, tetapi semakin tercerabut secara emosional dan ruhiyah. Rumah kehilangan ketenangannya. Ayah kehilangan waktunya. Ibu kehilangan tenaganya. Anak kehilangan arah hidupnya.

 

Padahal peradaban yang sehat bukan hanya mampu mencetak manusia sukses secara materi, tetapi juga mampu melahirkan manusia yang kokoh jiwanya, sehat fitrahnya, kuat hubungannya dengan Ilahi, dan memiliki lingkungan sosial yang saling menopang dalam kebaikan.

 

Mungkin inilah tragedi terbesar zaman modern: bukan sekadar hilangnya sosok ayah di rumah, tetapi hilangnya peradaban yang dulu ikut membesarkan jiwa manusia.

 

Wallahu ‘alam bissawab.

 

*) Penulis adalah Aktivis Muslimah, Tinggal di Kaimana

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten Ini Terlindungi !!!
Please disable your adblock for read our content.
Segarkan
Seraphinite AcceleratorOptimized by Seraphinite Accelerator
Turns on site high speed to be attractive for people and search engines.