Oleh : Andi Isoga

 

Semenjak pertikaian tanah antara masyarakat dan pihak Bandara, jalanan depan begitu ramai. Mondar mandir kendaraan truk bermuatan material dan pasir pantai yang digali oleh masyarakat. Akibat meluapnya kemarahan masyarakat karena tidak adanya kejelasan dari pihak bandara maupun Pemerintah Daerah. Jalanan dipenuhi debu yang betebaran di mana-mana, seperti telah terjadi kebakaraan hutan.

***

Tomas anak pertama dari tiga bersaudara. Tepat di samping rumahnya, berdiri sebuah pohon mangga telur yang tinggi. Di bawahnya ada sebuah para-para, tempat yang sering ia habiskan mengenang masa-masa sekolah saat masih menjadi seorang siswa di SMP N 2.

Sebelas tahun yang lalu, jalanan yang panjang dan lurus itu, sering Ia lewati bersama teman-temannya. Ketika pergi dan pulang Sekolah. Dulunya sepanjang jalan kiri dan kanan, berjejer pohon lindung yang terikat dengan kawat duri, buah-buahan, jambu biji, jambu air, dan mangga beraneka nama dan jenis, terhampar di sepanjang jalan. Tapi sekarang, telah tumbang dan gersang. Sudah berganti dengan bangunan-bangunan megah.

Mereka menjual tanah, mereka menggusur bukit-bukit, membakar rumput-rumput tempat sapi mencari makan. Dan orang-orang kota berbondong-bondong berdatangan mengisi kekosongan lahan yang telah menjadi kubangan. Akhirnya masyarakat hanya melihat dan terdiam. Dalam hati mereka terbersit kedengkian dan kebencian, akibat ulah perbuatan mereka sendiri. Mereka sengaja dimiskinkan oleh kekuasaan. Dan orang-orang kota yang semakin berdatangan setiap kali stom dari Kapal Putih terdengar.

Tepat di ujung Kampung Bagian Timur, laut yang sering dijadikan nelayan sebagai tempat melepas jaring dan kail-sumber mata pencaharian pengidupan, telah tergerus oleh pembangunan pelebaran dan perpanjangan bandara. Kampung yang diambil dari nama Perang Veteran Pejuang Indonesia (Trikora) dari perebutan Wilayah New Guinea dari Hindia Belanda, cepat atau lambat, kampung itu akan menjadi korban akibat pembangunan yang tidak memikirkan dampak dari keberlangsungan hidup Masyarakat.

Sudah sepekan hujan mengguyur kota terus-menerus tanpa henti. Dari curah hujan rendah sampai berkabut yang tinggi. Sore itu, semua orangtua berdiam di dalam rumah masing-masing untuk merencanakan anak berikutnya, laki-laki atau perempuan. Sementara anak-anak mereka sedang menikmati masa kecil di bawah derasnya hujan yang belum juga redah.

“Brubah menjadi Ultramen. Brubah menjadi Power Rangers Merah,” celetuk anak-anak rebutan menjadi jagoan mereka masing-masing, akibat mengonsumsi sinema-sinema di televisi setiap hari Minggu.

Kabut menutupi kota, lampu bandara tidak terlihat sedikit pun dari arah kampung. Dingin bercampur keharmonisan orangtua di atas ranjang, dan anak-anak semakin menggila dari atas Taluk, bersiap lompat menunggu ombak susulan.

“Tomas ko lihat burung besi sana, macam dia oleng-oleng k?” kata Yeremias, matanya terpaku dan berlari ke darat. Tomas pun mengikuti Yeremias berlari ke darat. Pesawat meliuk-liuk seperti layangan putus, hampir saja menyambar daun seng milik rumah warga.

“Bapa, Mama. Pesawat oleng-oleng,” teriakan Tomas jelas terdengar dari luar pintu rumah. Sementara di dalam, bunyi ranjang semakin kencang, berbenturan dengan dinding kamar terdengar.

Tak lama kemudian, bunyi dentuman sangat keras, badan pesawat menyentuh permukaan laut menggelegar di seisi kampung. Masyarakat pun berlarian, berbondong-bondong menuju tempat kejadian. Ada yang jalan kaki dan sedikit berlari, ada yang dengan cepat menyalakan mesin perahu mereka menuju lokasi.

“Pesawat Merpati Nusantara Airlines Penerbangan 8968 (MZ 8968, MNA 8968), mengalami kecelakaan. Dan di pastikan sebanyak 27 orang termasuk Awak Kabin pesawat tak ada yang selamat. Black Box/kotak hitam masih dalam pencarian,” berita dari salah satu Stasiun Televisi Nasional malam tadi, terdengar dari rumah tetangga.

Tangisan serta teriakan histeris dari keluarga korban tidak terelakan lagi di sore itu. Tak ada suara selain tangisan, air mata tumpah bercampur rintik hujan. Tragedi itu, Membuat nama Kota itu di kenal di kancah Nasional, melalui siaran di Televisi Nasional — Setelah itu terlupakan, tepatnya 7 Mei 2011, menjadi tragedi sejarah duka yang kelam bagi masyarakat Kaimana dan khususnya keluarga korban, yang masih belum percaya dengan musibah itu.

Kampung Trikora berada persis di ujung Bandara,  diapit oleh Tanjung Simora yang berhadapan langsung dengan laut Arafura yang luas. Dan di  arah timur, pembangunan Bandara yang semakin mencekik menuju kampung. Muncul kehawatiran  bagi sebagian masyarakat sekitar dan yang lainnya masih tetap mempertahankan argumentasi mereka tentang; “Pemerintah sedang membangun infrastruktur bandara demi kemajuan kota dan kesejahteraan masyarakatnya,” Sambung dari salah satu Warga. “Memang benar ! Apa yang sedang anda katakan. Tapi apakah mereka tidak berpikir kalau kita yang paling dekat dengan bandara?”.

Apabila tragedi itu kembali terjadi dan menghantam sekitaran kampung, berapa banyak manusia yang akan menjadi korban? Dan itu tidak kita inginkan. Semoga saja, Tuhan selalu menjaga Kota ini dan manusianya. Tomas berdiskusi dengan dirinya, sambil mengenang 11 Tahun yang lalu di ujung Bandara dan menabur bunga ke laut.

***

Pagi-pagi buta, sebelum ayam mencuci muka dan turun ke tanah. Ayah Tomas telah pergi memeriksa jerat yang lima hari yang lalu Ia pasang di seberang pulau seorang diri. Sampainya di sana, Ia mengikat pantat perahu di batang pohon Waru dan merasa cukup aman. Ia bergegas mengambil tombak dan parang untuk lekas memeriksa jerat. Ada 7 jerat yang waktu itu Ia pasang. Diantara ketujuh jerat itu, tiga diantaranya terkena rusa betina. Tapi, rusa-rusa itu telah mati dan membusuk. satu jerat berhasil mengenai Babi Hutan Jantan yang masih hidup.

Ketika Ia mendekati dan ingin menombak babi itu, babi menyerangnya kembali dengan taring yang tajam hingga membuat perutnya bocor. Ia berusaha meraih dahan pohon untuk memanjat. Namun sial, hujan baru saja redah dan batang-batang pohon sangat licin. Ia memilih berlari ke pesisir pantai. Tapi naas, ayahnya kehabisan darah dalam pelarian ke pantai. Taring itu telah menembus perutnya, lukanya menganga lebar sangat parah. Dan Ia tidak bisa mencari pertolongan apalagi mengemudi perahunya untuk kembali pulang ke kampung.

Setelah satu hari terlewati. Satu perahu dari arah laut mendekat. Masyarakat sedang mengunjungi kebun di Pulau yang sama. Dan dari jauh mereka melihat Ayah Tomas telah terbujur kaku bersimbah darah yang telah mengering di tubuhnya, maupun di sekitar pasir tanpa nyawa. Masyarakat tidak melanjutkan untuk ke kebun dan segera membawa pulang jasad korban ke kampung. Tomas yang waktu itu masih duduk di bangku kelas 2 SMP, harus menanggung beban kehidupan sekaligus menjadi tulang punggung keluarga. Bekerja dan harus menghidupi ketiga adiknya, serta seorang wanita yang sangat Ia cintai, Yah, Ibunya.

Hari demi hari, bulan berganti tahun, waktu begitu cepat berlalu. Tomas melewati semua tanpa kasih sayang dan sosok seorang Ayah. Kehidupan yang harmonis bersama keluarganya, sudah cukup membuatnya bahagia dan sangat merasa bersyukur, sebab Tuhan masih melindungi dan memberi apa yang mereka minta. “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya 1 , maka hal itu akan diberikan kepadamu. MARKUS 11:24. Sesekali Tomas berziarah ke makam Ayahnya. meminta restu dan berdoa sambil menangis.

Sekarang, Tomas telah menyelesaikan studinya di bangku Sekolah Menengah Atas. Di antara teman-teman lainnya, Ia mendapatkan beasiswa dari sekolah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi. Hasil yang Ia dapat tidak terlepas dari upaya dan kerja kerasnya, serta Doa yang tiada henti-hentinya dari seorang Ibu.

Tomas sangat berambisi untuk segerah menyelesaikan pendidikannya dan Ia sangat rakus dengan Ilmu Pengetahuan. Sekarang, Ia berada di Kota yang tepat, Kota yang dikenal sebagai satu dari sekian kota studi yang amat terpelajar. Kehidupan di sana terbilang cukup keras. Meskipun begitu, Ia telah lebih dulu menghadapi kehidupan dan kenyataan. Ia tumbuh bersama tumpukan buku-buku yang belum habis Ia baca, ditemani oleh Yeremias sahabat kecilnya.

Yeremias seorang anak kepala desa. Hidupnya terbilang berkecukupan untuk empat tahun bertahan di tanah orang, tanpa harus pulang dan pergi ke kampung halaman setiap liburan kuliah tiba—Menaiki Pesawat Terbang. Meski begitu, Yeremias memilih hidup sederhana. Orangtuanya telah bercerai semenjak Ia masih duduk di bangku kelas 1 SMA. Kondisi ini membuatnya harus menjadi ibu rumah tangga untuk melayani Ayahnya. Ia terbilang mandiri dan ulet dalam meracik berbagai bumbu masakan. Dari Nasi Goreng Putih yang dicampur dengan sedikit kecap, sampai ikan kuah kuning yang beraroma lezat. Ibunya telah meninggalkan mereka dan menikah dengan seorang lelaki pengusaha kayu ternama di Seberang Kota.

“Tobias pu mama, ko tau ! Pace Kepala Desa su cerai dengan di punya istri. Baru dia sudah kawin dengan laki-laki Jawa satu,” kata Tanta Aga, yang sering jualan pinang sama-sama.

“Pantasan, saya sudah tidak pernah lihat Yeremias pu mama jual-jual pinang lagi,” jawab Ibunya Tomas, waktu itu ketika gosip sedang diputar dari mulut ke mulut, rumah ke rumah, kampung ke kampung.

Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Dua tahun sudah mereka menjalani kehidupan di Negeri orang, yang membuat mereka berdua sangat dewasa, berani dan selalu mandiri. Status mahasiswa aktif masih menempel di Kartu Tanda Mahasiwa (KTM) milik mereka.

***

Malam ini begitu Kacau. Lampu-lampu jalan dari gedung-gedung itu, seakan mengejek orang-orang yang sedang tidur beralaskan koran di bahu jalan—di depan emperan Ruko-Ruko milik Pejabat. Lampu merah seakan mengedipkan matanya. merah, kuning dan hijau, seakan pelangi di malam hari yang mustahil bagi orang-orang itu nikmati.

Keesokan harinya, di sela-sela kesibukan perkuliahaan yang padat dengan tugas-tugas yang kian menumpuk, Tomas dan Yeremias bersepakat akhir pekan nanti akan  mengunjungi sa;ah satu tempat wisata yang dijuluki Kota Bunga Malino. Cerita dari teman-temannya; di sana sangat dingin dan udaranya masih cukup segar. Pemandangannya indah. Tomas berandai-andai seperti di kampung halaman waktu kecil dulu, 10 sampai 20 tahun yang lalu. Sembari menyiapkan keberangkatan. mereka harus segera menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh Dosen, agar tidak menjadi beban moral saat berakhir pekan nanti.

Akhir pekan telah tiba. Pagi itu matahari begitu indah, langit begitu cerah. Tobias memutar beberapa lagu di speaker kecil miliknya yang sering mati ketika volumenya selalu ditinggikan. Mereka menikmati pagi dengan sederhana, seadanya. Kopi tidak tinggal diam seperti sikapmu padaku dan sagu seakan terbakar oleh api cemburu—sambil mendengarkan lagu yang sempat beberapa waktu lalu sedang Viral. “Hanya Rindu” Andmes.

“Siooo ah.. sa ingat perem yang tadi malam kitong dua ketemu itu. Dia lihat sa macam, babi lihat kasbi k !” seru Tomas sebagai pengagum gelap.

“Ah.. yang mana. Yang tadi malam itu k ?”

“Itu sudah,” balas Tomas sambil tersenyum.

Semalam, mereka berdua baru saja menyelesaikkan tugas kuliah di warkop dekat kampus. Mereka bertemu dengan seorang gadis manis, rambutnya sekan gelombang di lautan Arafura yang tidak teduh, menghantam dan membentur batu-batu karang.

“Kalau ko cari yang Bonding, yang Makeup tebal-tebal, sa mundur. Tapi kalau ko cari yang bisa memasak, Bisa Garu Papeda, Sa maju paling depan,” sempat-sempatnya Tomas membaca tulisan di depan kaos milik gadis itu.

“Akh. perem yang malam itu, seperti Insos dong k. A..demi. kitong dua harus rajin kerja tugas di warkop itu,” seru Tomas sambil tersenyum manja yang berantakan, tapi percaya diri.

Sembari kopi dan sagu mereka habiskan, Yeremias memanaskan motor Supra X bekas miliknya, yang Ia beli dari bengkel depan dari hasil tabungannya.  Mereka langsung tancap gas ke Kota bunga, sebelum hari mulai kesiangan dan fatamorgana meliuk-liuk di ujung aspal.

Mereka harus melewati tanjakan-tanjakan yang lumayan menguras keringat si motor. Satu, dua tikungan, dan tiga tanjakan mereka lewati. Sesekali mereka berhenti, untuk perbaiki pantat mereka yang semakin menyatu dengan jok motor. Mereka baru merasakan berkendara sejauh ini. Lima jam mereka habiskan dalam perjalanan. Dan akhirnya mereka sampai di warung pertama di Kota Bunga.

Sambil menyantap mie instan dan menyeruput kopi, pandangan mereka tertujuh pada pohon-pohon pinus yang berbaris rapi. “Sangat indah ciptaan Tuhan,” Seru Tomas. Ia ingat tahun-tahun yang lalu ketika jalanan panjang di ujung Bandara masih begitu sejuk dilewati ketika berjalan kaki atau berkendara. “Coba saja waktu itu Pemerintah bersikap tegas dan masyarakat tidak menjual tanah-tanah mereka, dan biarkan pohon-pohon itu tumbuh sebagaimana mestinya mereka tumbuh. Pada dasarnya manusia memang tidak pernah merasa puas dan sangat rakus”.

Pucuk di Cinta Ulam pun Tiba.

“Tomas-Tomas, ko lihat siapa yang di sana itu?” Seru Yeremias merasa kaget.

“Ah. we. Macam perem yang malam itu k?” jawab Tomas.

“Itu sudah,” Yeremias meniup kopinya.

“Singga dolo teman!” Saut Tomas dari dalam Warung

Gadis itu mencari sumber suara “siapa yang panggil sa e?” Tanya gadis itu pada temannya. Seketika mereka melihat ke arah warung. Tobias telah antusias berdiri dan melambaikan tangannya. Memanggil dua gadis untuk segera datang. Tomas menyambut dengan senyuman—menyodorokan tangan dan berkenalan. Sekali lagi, Tomas sangat percaya diri, meskipun senyumnya sangat tidak beraturan.

“Perkenalkan. sa punya nama Tomas. Baru nona deng teman punya nama siapa?”

“Sa punya nama Natalia, sa asal dari Biak,” jawab Natalia — “Sa  punya nama Marta,” sambung Marta sambil melempar tangan ke arah Yeremias.

Perjumpaan yang sebelumnya tidak direncanakan, tidak meleset dari perbincangan Tomas pagi tadi, benar dan tepat sasaran. Mereka berempat saling berbincang-bincang memandang ke arah Barisan Pohon Pinus. sembari memesan dua mie instan lagi.

***

Tanta Aga baru saja pulang dari kebun. Ia singgah di salah satu rumah yang sering menjadi tempat langganannya menjual buah sirih dan pinang. Rumah-rumah kecil yang sering Ia berjualan, sekarang sepih pembeli. Orang-orang lebih memilih berjalan jauh ke pasar Sentral, karena di sana, selain sirih dan pinang, mereka dapat berbelanja keperluan lain untuk memenuhi kebutuhan. Akhirnya orang-orang yang berjualan di samping jalan pada rumah-rumah kecil, harus bisa mengeluarkan uang lebih, untuk bisa berjualan di pasar. Eits, belum tentu berjualan di pasar dan jualan mereka bisa laku, sebab setiap meja jualan sudah terisi—sudah punya penghuninya. Dan di sana, mereka akan berjualan di bawah tanah, beralaskan karung putih bekas dari beras jatah yang dibagi oleh pemerintah tiap tiga bulan.

Perbincangan dua tahun lalu yang sempat terpotong dan mengebohkan kampung, mereka lanjutkan.

“Maria. Ko sudah dengar tentang Pace Desa k blom?”

“Belum Tanta Aga. Kenapa-kenapa ada yang baru k?” jawab Tanta Maria menghitung buah siri dan pinang.

“Pace Desa di dekat dengan Tomas pu mama. Perem janda itu”

“Ah. Yang benar saja Tanta Aga ?” balas Tanta Maria, sambil memberi uang 80 Ribu Rupiah. “Tanta tau dari mana?” sambungnya lagi

“Hampir setiap sore. Pace Desa di datang ke Perem Janda itu. Siapa yang tidak curiga coba,” sambung Tanta Maria. “Pasti Pace Desa mo cara-cara lagi”. Mereka tertawa lepas, suara mereka terdengar sampai di ujung kampung. Sehabis tertawa, Tanta Aga segera pamit untuk pulang. Ia menyimpan uangnya di tomang dan mengeluarkan tempat bekas minyak rambut Gatsby yang berisi kapur Siri.

Siapa yang tidak mengenali perempuan janda muda itu. Di usianya yang semakin senja, semakin berseri-seri cahaya memancar dari raut wajahnya. Janda memang patut diperhitungkan. Apalagi tentang pengalaman, jangan coba-coba kau tanya lagi.

Keesokan harinya. Pace Desa mengunjungi ke rumah Tobias. Ada sebuah perbincangan yang sangat intim, mereka bincangkan.

“Tomas punya uang kuliah semester ini sudah bayar k?” tanya Pace Desa

“Belum Bapa Desa. Sa juga ada bingung ini, mau dapat uang dari mana. Tobias pu Bapa — punya mesin 40 Pk belum terjual, susah karena mesin lama,” jawab ibunya Tomas sambil menundukan kepala.

“Ini ada sedikit uang. Ko bisa bayar stengah dolo. Setelah itu kalau mesin sudah laku, baru di lunasi,” jawab Pace Desa melempar senyum terbaiknya.

“Aduh, Bapa Desa, terima kasih banyak. Tuhan Berkati selalu. Nanti kalau mesin sudah laku, Baru Sa ganti Bapa Desa punya uang,” Janda itu membalas dengan wajah yang sedikit terbantu dan kembali menangkap senyumnya ke arah Bapa Desa.

Dan cerita itu tenggelam bersama larutnya malam, diantara bibir pantai yang tergusur oleh bangunan megah di Kota itu. Tomas dan Yeremias pun terlelap dalam tidur mereka di Kota Bunga, sambil berharap mimpi bertemu Marta dan Natalia. Akh, ceritamu semerdu alunan musik di Kampung Halamanku.***

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Administrasi Negara STISIP Makassar


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten Ini Terlindungi !!!
Please disable your adblock for read our content.
Segarkan