Minim Pendampingan, Pengembangan Peternakan di Kaimana Papua Barat Belum Berhasil

0

Oleh : Meidelfanto Kurniawan Albertus Payung

 

Kabupaten Kaimana merupakan salah satu kabupaten pemekaran di wilayah selatan Provinsi Papua Barat pada tahun 2003 yang lalu.

 

Kondisi alam Papua yang sangat menjanjikan, memberikan daya dukung yang cukup untuk pengembangan bidang pertanian, peternakan, perkebunan maupun kehutanan.

 

Pengembangan peternakan di wilayah ini, sebenarnya sudah dilaksanakan sejak tahun 1992 silam, saat itu, wilayah Kaimana masih menjadi bagian dari Kabupaten Fakfak.

 

Pemerintah Pusat pada tahun 1992 lalu, telah menyalurkan ternak sapi melalui program Bantuan Presiden (Banpres). Bukan hanya itu saja, di tahun 1999 lalu pun melalui Dinas Peternakan Kabupaten Fakfak pun, telah menyalurkan bantuan kambing gaduhan.

 

Seiring dengan waktu berjalan, program ini belum membuahkan hasil maksimal, yang lebih disebabkan karena masih minimnya pemahaman masyarakat berkaitan dengan pengembangannya.

 

Meski belum berhasil, namun setahun sejak dimekarkan, Pemerintah Daerah pun akhirnya mengupayakan lagi program tersebut. Dengan menggelontorkan anggaran melalui APBD Kabupaten Kaimana di tahun 2004 lalu, bantuan ternak pun diprogramkan kembali. Maksud dan tujuannya adalah, bagaimana mengenjot core bisnis di wilayah tersebut, diantara kelautan dan perikanan, pertanian dan peternakan, serta kehutanan dan perkebunan, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut.

 

Bantuan yang diberikan pun dengan sasaran kelompok masyarakat peternak, mahasiswa maupun unit pelaksana teknis di lingkungan Dinas Pertanian dan Peternakan.

 

Pengembangan ternak, terutama sapi dan kambing di Kabupaten Kaimana masih bersifat peternakan subsisten, artinya pengembangan peternakan hanya untuk produksi sendiri.

 

Selain itu, melimpahnya hewan liar yang mudah diperoleh masyarakat lokal, menyebabkan pengembangan peternakan di wilayah Papua khususnya di Kaimana belum diminati sebagai sebuah usaha ekonomi baru untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, meski Pemerintah Daerah telah mengalokasi anggaran pengembangan peternakan di wilayah itu, beberapa tahun anggaran.

 

Berkaitan dengan pengembangan peternakan di Kaimana, ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian bersama, yakni pertama, perlu ada perencanaan yang matang. Perencanaan yang matang dimulai dengan pendataan dan pemetaan wilayah potensial untuk pengembangan peternakannya, serta jenis ternak yang diupayakan di wilayah tersebut.

 

Kedua, menyiapkan penerima bantuan yakni masyarakat peternak. Karena, tidak harus alokasi anggaran yang digelontorkan terlebih dahulu, tanpa menyiapkan masyarakat penerima bantuan tersebut.

 

Ketiga, menyiapkan alokasi anggaran yang mencukupi, agar pengembangan peternakan di setiap tahun anggaran berkesinambungan. Artinya, jika pengembangan peternakan itu sudah dapat berjalan baik, perlu dilanjutkan dengan tersedianya kebijakan untuk pemasarannya, transportasi serta daya dukung lainnya.

 

Keempat, pendampingan secara kontinyu harus terus dilakukan oleh pendamping, mulai dari pemahaman dasar beternak, managemen keuangan, hingga proses kemandirian masyarakat.

 

Jika empat hal ini dapat dikembangkan dengan maksimal, keberhasilan pengembangan peternakan di Kabupaten Kaimana akan berhasil dengan baik. Karena hasil tak mungkin mengkhianati proses dan usaha, jika diupayakan dengan mengedepankan pengetahuan, pengalaman dan dukungan. Semoga.*)

 

 

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Peternakan

Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

 


0 thoughts on “Minim Pendampingan, Pengembangan Peternakan di Kaimana Papua Barat Belum Berhasil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten Ini Terlindungi !!!
Please disable your adblock for read our content.
Segarkan